Iklan

Tertarik untuk iklan?

Please Contact Admin

By PM or Email: gordhi@gmail.com

YM: don_gordhi

Poll

Bangga ga sama musik Indonesia?

64% 64% [ 27 ]
7% 7% [ 3 ]
29% 29% [ 12 ]

Total Suara : 42

User Yang Sedang Online
Total 3 uses online :: 0 Terdaftar, 0 Tersembunyi dan 3 Tamu

Tidak ada

[ View the whole list ]


User online terbanyak adalah 140 pada Thu Dec 02, 2010 3:37 pm

You are not connected. Please login or register

Mari kita renungkan...

Pilih halaman : 1, 2  Next

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down  Message [Halaman 1 dari 2]

1 Mari kita renungkan... on Fri Aug 15, 2008 1:14 pm

zuwi50


SMP Kelas 2
SMP Kelas 2
So guys...
if you have any stories-stories atau penyemangat-penyemangat lain yang bisa dijadikan bahan renungan, bagilah di sini...

Mulai dari kita posting inspirasi-inspirasi, kemudian bahas sedikit,,,

terus kalau ada yang mau berbagi cerita lain silahkan, kemudian kita bahas lagi...

dan begitu seterusnya
dan seterusnya...
dan seterusnya...
dan seterusnya...

sampai gak perlu inget-inget lagi di kepala langsung bisa nasehatin orang.

yah itung-itung belajar jadi bijaksana...

gw mulai yak!

Lihat profil user

zuwi50


SMP Kelas 2
SMP Kelas 2
Ketika Kau Menceraikan Aku, Bawa Aku Dengan Tanganmu...

Ketika Kau Menceraikan Aku, Bawa Aku Dengan Tanganmu...

Pada hari pernikahanku,aku membopong istriku.
Mobil pengantin berhenti didepan flat kami yg cuma berkamar satu. Sahabat2ku menyuruhku untuk membopongnya begitu keluar dari mobil. Jadi kubopong ia memasuki rumah kami. Ia kelihatan malu2. Aku adalah seorang pengantin pria yg sangat bahagia.

Ini adalah kejadian 10 tahun yg lalu.
Hari2 selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening: Kami mempunyai seorang anak, saya terjun ke dunia usaha dan berusaha untuk menghasilkan banyak uang.

Begitu kemakmuran meningkat, jalinan kasih diantara kami pun semakin surut.
Ia adalah pegawai sipil. setiap pagi kami berangkat kerja bersama2 dan sampai dirumah juga pada waktu yg bersamaan. Anak kami sedang belajar di luar negeri. Perkawinan kami kelihatan bahagia. Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh perubahan yg tidak kusangka2.

Dew hadir dalam kehidupanku.

Waktu itu adalah hari yg cerah. Aku berdiri di balkon. dengan Dew yg sedang merangkulku. Hatiku sekali lagi terbenam dalam aliran cintanya. ini adalah apartment yg kubelikan untuknya.

Dew berkata , "kamu adalah jenis pria terbaik yg menarik para gadis. "
Kata2nya tiba-tiba mengingatkanku pada istriku. Ketika kami baru menikah,istriku pernah berkata, "Pria sepertimu,begitu sukses, akan menjadi sangat menarik bagi par gadis. "
Berpikir tentang ini, Aku menjadi ragu2. Aku tahu kalo aku telah menghianati istriku. Tapi aku tidak sanggup menghentikannya. Aku melepaskan tangan Dew dan berkata, "kamu harus pergi membeli beberapa perabot, O.K.?.Aku ada sedikit urusan dikantor" Kelihatan ia jadi tidak senang karena aku telah berjanji menemaninya. Pada saat tersebut,ide perceraian menjadi semakin jelas dipikiranku walaupun kelihatan tidak mungkin.

Bagaimanapun,aku merasa sangat sulit untuk membicarakan hal ini pada istriku. Walau bagaimanapun ku jelaskan, ia pasti akan sangat terluka. Sejujurnya,ia adalah seorang istri yg baik. Setiap malam ia sibuk menyiapkan makan malam. Aku duduk santai didepan TV. Makan malam segera tersedia. Lalu kami akan menonton TV sama2. Atau,Aku akan menghidupkan komputer,membayangkan tubuh Dew. Ini adalah hiburan bagiku.

Suatu hari aku berbicara dalam guyon, "seandainya kita bercerai, apa yg akan kau lakukan? " Ia menatap padaku selama beberapa detik tanpa bersuara. Kenyataannya ia percaya bahwa perceraian adalah sesuatu yg sangat jauh dari ia. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan jika tahu bahwa aku serius.

ketika istriku mengunjungi kantorku, Dew baru saja keluar dari ruanganku. Hampir seluruh staff menatap istriku dengan mata penuh simpati dan berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatu selama berbicara dengan ia.. Ia kelihatan sedikit kecurigaan Ia berusaha tersenyum pada bawahan2ku. Tapi aku membaca ada kelukaan di matanya.

Sekali lagi, Dew berkata padaku," He Ning, ceraikan ia, O.K.? Lalu kita akan hidup bersama." Aku mengangguk.

Aku tahu aku tidak boleh ragu2 lagi. Ketika malam itu istriku menyiapkan makan malam, ku pegang tangannya,"Ada sesuatu yg harus kukatakan" Ia duduk diam dan makan tanpa bersuara. Sekali lagi aku melihat ada luka dimatanya. Tiba2 aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi ia tahu kalo aku terus berpikir. "aku ingin bercerai", ku ungkapkan topik ini dengan serius tapi tenang. Ia seperti tidak terpengaruh oleh kata2ku, tapi ia bertanya secara lembut,"kenapa?" "Aku serius. " Aku menghindari pertanyaannya. Jawaban ini membuat ia sangat marah. Ia melemparkan sumpit dan berteriak kepadaku,"Kamu bukan laki2!" .

Pda malam itu, kami sekali saling membisu. Ia sedang menangis.. Aku tahu kalau ia ingin tahu apa yg telah terjadi dengan perkawinan kami. Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yg memuaskan sebab hatiku telah dibawa pergi oleh Dew.

Dengan perasaan yg amat bersalah, Aku menuliskan surai perceraian dimana istriku memperoleh rumah, mobil dan 30% saham dari perusahaanku. Ia memandangnya sekilas dan mengoyaknya jadi beberapa bagian.. Aku merasakan sakit dalam hati. Wanita yg telah 10tahun hidup bersamaku sekarang menjadi seorang yg asing dalam hidupku. Tapi aku tidak bisa mengembalikan apa yg telah kuucapkan.

Akhirnya ia menangis dengan keras didepanku,dimana hal tersebut tidak pernah kulihat sebelumnya. Bagiku, tangisannya merupakan suatu pembebasan untukku. Ide perceraian telah menghantuiku dalam beberapa minggu ini dan sekarang sungguh2 telah terjadi ..

Pada larut malam,aku kembali ke rumah setelah menemui klienku. Aku melihat ia sedang menulis sesuatu. Karena capek aku segera ketiduran. Ketika aku terbangun tengah malam, aku melihat ia masih menulis. Aku tertidur kembali. Ia menuliskan syarat2 dari perceraiannya: ia tidak menginginkan apapun dariku,tapi aku harus memberikan waktu sebulan sebelum menceraikannya,dan dalam waktu sebulan itu kami harus hidup bersama seperti biasanya. Alasannya sangat sederhana: Anak kami akan segera menyelesaikkan pendidikannya dan liburannya adalah sebulan lagi dan ia tidak ingin anak kami melihat kehancuran rumah tangga kami. Ia menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya," He Ning, apakah kamu masih ingat bagaimana aku memasuki rumah kita ketika pada hari pernikahan kita? Pertanyaan ini tiba2 mengembalikan beberapa kenangan indah kepadaku. Aku mengangguk dan mengiyakan.

"Kamu membopongku dilenganmu", katanya, "jadi aku punya sebuah permintaan, yaitu kamu akan tetap membopongkuku pada waktu perceraian kita. Dari sekarang sampai akhir bulan ini, setiap pagi kamu harus membopongku keluar dari kamar tidur ke pintu ." Aku menerima dengan senyum. Aku tahu ia merindukan beberapa kenangan indah yg telah berlalu dan berharap perkawinannya diakhiri dengan suasana romantis.

Aku memberitahukan Dew soal syarat2 perceraian dari istriku. Ia tertawa keras dan berpikir itu tidak ada gunanya. "Bagaimanapun trik yg ia lakukan,ia harus menghadapi hasil dari perceraian ini," ia mencemooh. Kata2nya membuatku merasa tidak enak.

Istriku dan aku tidak mengadakan kontak badan lagi sejak kukatakan perceraian itu. kami saling menganggap orang asing. Jadi ketika aku membopongnya dihari pertama, kami kelihatan salah tingkah. Anak kami menepuk punggung kami,"wah, papa membopong mama,mesra sekali" Kata2nya membuatku merasa sakit.. Dari kamar tidur ke ruang duduk, lalu ke pintu, aku berjalan 10 meter dengan ia dalam lenganku. Ia memejamkan mata dan berkata dengan lembut," mari kita mulai hari ini,jangan memberitahukan pada anak kita." Aku mengangguk, merasa sedikit bimbang.Aku melepaskan ia di pintu. Ia pergi menunggu bus, dan aku pergi ke kantor.

Pada hari kedua, bagi kami terasa lebih mudah. Ia merebah di dadaku,Kami begitu dekat sampai2 aku bisa mencium wangi di bajunya. Aku menyadari bahwa aku telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita ini. Aku melihat bahwa ia tidak muda lagi.beberapa kerut tampak di wajahnya.

Pada hari ketiga, ia berbisik padaku, "kebun diluar sedang dibongkar.hati2 kalau kamu lewat sana."

Hari keempat,ketika aku membangunkannya,aku merasa kalau kami masih mesra seperti sepasang suami istri dan aku masih membopong kekasihku dilenganku. Bayangan Dew menjadi samar.

Pada hari kelima dan enam, ia masih mengingatkan aku beberapa hal,seperti,dimana ia telah menyimpan baju2ku yg telah ia setrika, aku harus hati2 saat memasak, dll. Aku mengangguk.

Perasaan kedekatan terasa semakin erat. Aku tidak memberitahu Dew tentang ini.

Aku merasa begitu ringan membopongnya.Berharap setiap hari pergi ke kantor bisa membuatku semakin kuat. Aku berkata padanya,"kelihatannya tidaklah sulit membopongmu sekarang"

Ia sedang mencoba pakaiannya, aku sedang menunggu untuk membopongnya keluar. Ia berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa menemukan yg cocok. Lalu ia melihat,"semua pakaianku kebesaran". Aku tersenyum.Tapi tiba2 aku menyadarinya sebab ia semakin kurus itu sebabnya aku bisa membopongnya dengan ringan bukan disebabkan aku semakin kuat. Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam hati. Sekali lagi , aku merasakan perasaan sakit

Tanpa sadar ku sentuh kepalanya. Anak kami masuk pada saat tersebut."Pa,sudah waktunya membopong mama keluar" Baginya,melihat papanya sedang membopong mamanya keluar menjadi bagian yg penting. Ia memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya dan merangkulnya dengan erat. Aku membalikkan wajah sebab aku takut aku akan berubah pikiran pada detik terakhir. Aku menyanggah ia dilenganku, berjalan dari kamar tidur,melewati ruang duduk ke teras Tangannya memegangku secara lembut dan alami. aku menyanggah badannya dengan kuat seperti kami kembali ke hari pernikahan kami. Tapi ia kelihatan agak pucat dan kurus, membuatku sedih.

Pada hari terakhir,ketika aku membopongnya dilenganku, aku melangkah dengan berat. Anak kami telah kembali ke sekolah. ia berkata,"sesungguhnya aku berharap kamu akan membopongku sampai kita tua" Aku memeluknya dengan kuat dan berkata "antara kita saling tidak menyadari bahwa kehidupan kita begitu mesra".

Aku melompat turun dari mobil tanpa sempat menguncinya. Aku takut keterlambatan akan membuat pikiranku berubah. Aku menaiki tangga. Dew membuka pintu. Aku berkata padanya," Maaf Dew, Aku tidak ingin bercerai. Aku serius". Ia melihat kepadaku, kaget. Ia menyentuh dahiku."Kamu tidak demam". Kutepiskan tanganya dari dahiku"maaf, Dew,Aku cuma bisa bilang maaf padamu,Aku tidak ingin bercerai. Kehidupan rumah tanggaku membosankan disebabkan ia dan aku tidak bisa merasakan nilai2 dari kehidupan,bukan disebabkan kami tidak saling mencintai lagi.Sekarang aku mengerti sejak aku membopongnya masuk ke rumahku, ia telah melahirkan anakku. Aku akan menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf padamu"

Dew tiba2 seperti tersadar. Ia memberikan tamparan keras kepadaku dan menutup pintu dgn kencang dan tangisannya meledak. Aku menuruni tangga dan pergi ke kantor. Dalam perjalanan aku melewati sebuah toko bunga, ku pesan sebuah buket bunga kesayangan istriku. Penjual bertanya apa yg mesti ia tulis dalam kartu ucapan?

Aku tersenyum, dan menulis " Aku akan membopongmu setiap pagi sampai kita tua.."

Lihat profil user

3 Re: Mari kita renungkan... on Tue Aug 19, 2008 12:54 pm

zuwi50


SMP Kelas 2
SMP Kelas 2
1234... mana nih yang lain... cuma sendirian gw...

Lihat profil user

4 Re: Mari kita renungkan... on Tue Aug 26, 2008 8:47 pm

Raexon


Pejuang Kumpul
mungkin gara2 kepanjangan kali...bacanya gw ampe merem melek..

Lihat profil user

5 Re: Mari kita renungkan... on Wed Aug 27, 2008 2:03 pm

zuwi50


SMP Kelas 2
SMP Kelas 2
iya juga kali ya... emang panjang sih...

Lihat profil user

6 Re: Mari kita renungkan... on Wed Aug 27, 2008 2:04 pm

zuwi50


SMP Kelas 2
SMP Kelas 2
Menerima Orang Lain Apa Adanya


Seorang pelajar yang baru saja pulang dari medan perang menelepon
orangtuanya di rumah. Orangtuanya begitu senang mendengar bahwa anaknya telah kembali. Mereka segera menyuruh pemuda itu untuk pulang ke rumah. Pemuda itupun sudah tidak sabar lagi rasanya untuk berkumpul kembali
dengan keluarganya setelah berbulan bulan lamanya ia harus berada di
negara lain untuk berperang.

Pemuda itu menanyakan pada orangtuanya apakah ia boleh membawa sahabatnya untuk tinggal bersama sama mereka. Orangtuanya setuju saja lagipula mereka masih punya satu kamar extra di rumah, satu orang tentunya tidak akan begitu merepotkan. ” tetapi sahabatku itu cacat Ia hanya memiliki satu lengan dan satu kaki saja “. Demikian si pemuda itu memberi penjelasan
agar orangtuanya tidak terkejut nantinya.

Mendengar hal itu orangtuanya mengurungkan niatnya. Mereka mencoba memberi penjelasan pada putranya, “Tidakkah sebaiknya kita membawa temanmu itu ke panti perawatan korban perang? Kita akan kerepotan mengurus segala keperluannya nantinya. Sudahlah, sebaiknya kamu segera pulang saja. Kami sudah sangat merindukanmu. Besok pagi kami akan segera menjemputmu. Dimana kamu tinggal sekarang?”. Mendengar jawaban orangtuanya, pemuda itu memberikan hotelnya dan menutup telepon dengan kecewa.

Keesokan harinya orangtua pemuda itu menjemputnya di Hotel dan menemukan kabar bahwa pemuda itu telah bunuh diri dengan cara menjatuhkan dirinya lewat jendela. Setelah melihat mayat putranya,betapa hancur hati mereka mengetahui bahwa ternyata putranya itu hanya memiliki satu Lengan dan satu kaki.

Seringkali kita lupa bahwa mengasihi adalah menerima diri orang lain
SEUTUHNYA tanpa syarat.

Mengasihi suami bukanlah hanya pada saat dirinya begitu gagah dan mapan
dengan pekerjaan yang menjanjikan.

Mengasihi isteri adalah menerima dirinya apa adanya dengan kondisi fisik
seperti apapun.

Mengasihi anak adalah bisa memuji dan memberinya semangat sekalipun
kemampuannya jauh di bawah rata rata anak seumurannya.

Mengasihi Orangtua adalah bangga memiliki mereka sekalipun mereka bukan
orangtua yang sempurna.

MENGASIHI ADALAH MENERIMA ORANG LAIN APA ADANYA.

Lihat profil user

7 Re: Mari kita renungkan... on Tue Oct 28, 2008 11:26 am

zuwi50


SMP Kelas 2
SMP Kelas 2
Embun Pagi

Adalah Raja Zhao yang memerintah sebuah kerajaan di abad ketiga,
mengirim putranya pangeran Chao Chan yang telah beranjak dewasa ke
sebuah kuil dimana seorang guru besar Pan Ku berada. Chao Chan akan
dididik menjadi seorang pemimpin agar kelak siap menggantikan
ayahnya sebagai raja.

Sehari setelah tiba di kuil, Chao Chan merasa aneh karena Pan Ku
justru mengajak Chao Chan masuk kedalam hutan lalu meninggalkannya
seorang diri di sebuah rumah yang telah disediakan baginya ditengah
hutan itu. "Tinggallah disini dan belajarlah pada alam, satu bulan
lagi aku akan datang menjemputmu" demikian kata Pan Ku.

Satu bulan kemudian Pan Ku datang menjenguk sang pangeran di dalam
hutan dan bertanya: "Katakanlah, selama sebulan di hutan ini suara
apa saja yang sudah kau dengar?"
"Guru," jawab pangeran, "Saya telah mendengar suara kokok ayam
hutan, jangkrik mengerik, lebah mendengung, burung berkicau,
serigala melolong…." dan masih banyak suara-suara lainnya yang
disebutkan oleh Chao Chan.

Usai pangeran Chao Chan menjelaskan pengalamannya, guru Pan Ku
memerintahkannya untuk tinggal selama tiga hari lagi untuk
memperhatikan suara apa lagi yang bisa didengar selain yang telah
disebutkannya. Untuk kesekiankalinya Chao Chan tidak habis mengerti
dengan perintah sang guru, bukankah ia telah menyebutkan banyak
suara yang didengarkannya?
Chao Chan termenung setiap hari namun tetap berpikir keras ingin
menemukan suara yang dimaksud oleh Pan Ku, tetapi tetap saja tidak
menemukan suara lain dari yang selama ini sudah didengarnya.

Pada hari ketiga menjelang matahari terbit, Chao Chan bangun dari
tidurnya kemudian duduk bersila di rerumputan dan mulailah
bermeditasi. Dalam kesunyian itulah sayup-sayup Chao Chan mendengar
suara yang benar-benar berbeda dengan sebelumnya.
Semakin lama suara itu semakin jelas, dan saat itulah Chao Chan
mengalami pencerahan. "Pasti inilah suara-suara yang dimaksud guru."
teriaknya dalam hati.
Akhirnya tanpa menunggu Pan Ku datang mengunjunginya, sang pangeran
bergegas kembali ke kuil untuk melaporkan temuannya.

"Guru", ujarnya "Ketika saya membuka telinga dan hati saya lebar-
lebar, saya dapat mendengar hal-hal yang tak terdengar seperti suara
bunga merekah, suara matahari yang memanaskan bumi dan suara rumput
minum embun pagi."
Pan Ku tersenyum lega seraya manggut-manggut mengiyakan, lalu
katanya: "Mampu mendengarkan suara yang tak terdengar adalah
pelajaran wajib yang paling penting bagi siapapun yang ingin menjadi
pemimpin yang baik."

"Karena, baru setelah seseorang mampu mendengar suara hati
pengikutnya, mendengar perasaan yang tidak ter-ekspresikan,
kesakitan yang tak terungkapkan, keluhan yang tidak diucapkan, maka
barulah seorang pemimpin akan paham betul apa yang salah dan niscaya
akan mampu memenuhi kebutuhan yang sesungguhnya dari para
pengikutnya" .
http://andriewongso .com/awartikel- 1916-Artikel_ Tetap-Embun_ Pagi

Lihat profil user

8 Re: Mari kita renungkan... on Tue Oct 28, 2008 11:34 am

zuwi50


SMP Kelas 2
SMP Kelas 2
TerimaKasih Untuk Tidak Berbohong

Saat ini Kejujuran sulit di dapati, mungkin karena banyak dari kita yang
kurang menghargainya, Kita lihat saat ini pemimpin sering tidak jujur dalam
penyelenggaraan negara sehingga merugikan kita sebagai rakyatnya, Pedagang
berbohong kepada Pembeli sehingga sering mengecewakan pembeli, pendidik
sering menggunakan kata-kata yang tidak benar dalam mendidik, sehingga akan
timbul generasi yang mengutamakan ketidak benaran.

Kenapa sih manusia itu suka berbohong? karena berbohong itu mudah, karena
dengan berbohong dia bisa menutupi kelemahan atau kekuranganya, Karena
dengan berbohong seseorang terhindar dari hukuman atau terhindar kelihatan
kekurangan atas dirinya. Tapi apakah kebohongan itu akan kekal dan membawa
bahagia, Saya yakin kebohongan tidak akan membawa kebahagian dalam hidup,
mungkin dengan berbohong anda selamat hari ini, tapi anda akan terus
dihantui rasa bersalah seumur hidup anda dimana anda takut kalau kebohongan
yang anda buat terbongkar, apa lagi kalau hal itu menyangkut hal yang besar,
mungkin anda takut hal tersebut bisa berakibat Fatal.

Adakah yang namanya bohong baik, banyak orang yang mengatakan bahwa dia
terpaksa berbohong untuk kebaikan, tapi menurut saya sekali berbohong tetap
berbohong, tidak ada namanya bohong yang baik, mungkin akan lebih baik kita
mengungkapkan suatu kebenaran walau kebenaran itu memang sulit dan pahit,
tetapi anda telah berjiwa besar, untuk melakukanya dan anda tidak harus
menutupi kebohongan seumur hidup anda.

Perlu diingat sekali kita berbohong itu tidak akan cukup, kenapa, karena
sekali berbohong tentang suatu hal pasti kita akan merambat ke hal-hal yang
lain, jadi mau tidak mau pasti kita akan terus berbohong, mau kah kita hidup
dalam kebohongan satu ke kebohongan yang lain. Kalau saya mengatakan tidak
mau, katakan salah itu salah dan benar itu benar, tidak ada daerah abu-abu.
kecuali orang yang berfikir tidak baik selalu melihat daerah abu-abu untuk
tujuan tidak benar.

Kejujuran adalah bahasa universal, agama apa pun, di tanah mana pun kita
berdiri, dan di waktu kapan pun kejujuran tetap berlaku. Namun nampaknya
keuniversalan tersebut semakin teralienasi, dimana justru saat ini yang
lebih sering dianggap biasa dan lumrah adalah ketidakjujuran. Di kantor,
rumah, persahabatan, rumah tangga semakin mudah ditemui warna-warna dusta
dengan berbagai ragam dan bentuknya. Dan justru pula disaat yang sama,
kejujuran menjadi barang langka dan seringkali dianggap aneh untuk kita
semua.

Kebohongan itu menghancurkan, beberapa bukti besar dapat kita lihat
bagaimana koruptor yang ditelanjangi di pengadilan selalu menggunakan
kebohongan-demi kebohongan untuk menutupi pada akhirnya menghancurkan
dirinya sendiri, contohnya tokoh politik P3 Al-amin Nur nasution, begitu
banyak kebohongan yang di keluarkan saat pertama tertangkap, tetapi
kebohonganya terungkap satu demi satu, dan hal itu membuat dia tidak dapat
dipercaya lagi, sungguh ironis, Al-Amin yag berarti dalam bahasa arab dapat
dipercaya menjadi orang yang tidak dapat dipercaya. Dan banyak contoh lainya
betapa seorang yang berbohong untuk korupsi pada saat akhirnya terungkap
mereka terlihat menyedihkan, dari seorang yang terhormat menjadi orang yang
terhujat. kasihan...

Pernah ingat nasihat orang tua saat kita kecil, pasti kita pernah mendengar
orang tua menasehati supaya harus menjadi orang yang jujur. Dalam mendidik
dan memotivasi supaya seorang anak menjadi orang yang jujur, kerap kali
dikemukakan bahwa menjadi orang jujur itu sangat baik, akan dipercaya orang,
akan disayang orang tua, dan bahkan mungkin sering dikatakan bahwa kalau
jujur akan disayang/dikasihi oleh Tuhan. terkadang terlontar pikiran nakal,
bagaimana orang tua menasihati anak untuk jujur sedangkan orang tua tidak
jujur dalam kehidupan pribadinya.. . kita mengajarkan jujur tetapi kita
sendiri berbohong... .

Dalam kehidupan sehari-hari, saya sering melihat (bahkan juga ikut terlibat)
dalam berbagai macam bentuk aktivitas interaksi sosial dimasyarakat, yang
justru kebanyakannya adalah wujud realisasi dari sikap tidak jujur dalam
skala yang sangat bervariasi, seperti:

Sering terjadi, orang tua bereaksi spontan saat melihat anaknya terjatuh dan
berkata "Oh, tidak apa-apa! Anak pintar, enggak sakit, kok! Jangan nangis,
yah!". Menurut saya, dalam hal ini secara tidak langsung si-anak diajarkan
dan dilatih kemampuan untuk dapat "berbohong", menutup-nutupi perasaannya
(sakit) hanya karena suatu kepentingan (supaya tidak menangis). mungkin
seharusnya orang tua berkata "jangan menangis ya, sakit itu wajar nanti kita
obati agar lekas sembuh" agar kita mengjarkan kejujuran kepada anak kita.

Selain itu saya juga sering melihat dan mengalami kejadian seperti: Saat
seseorang bertamu kerumah orang lain, ketika ditanya: " Sudah makan,
belum?", walaupun saya yakin tawaran sang tuan rumah "serius" biasanya
dengan cepat saya akan menjawab "Oh, sudah!! Kita baru saja makan ", padahal
sebenarnya saya belum makan. mungkin kita bisa menjawab "Saya tidak lapar,
atau oh Nanti saja dirumah" kita cenderung berbohong untuk hal remeh seperti
ini bagaimana kita membiasakan jujur untuk hal besar, kalau hal kecil saja
kita berbohong

Dalam lingkungan usaha / dagang, kejujuran sering disebut-sebut sebagai
modal yang penting untuk mendapatkan kepercayaan. Akan tetapi sangat
kontroversial dan lucunya kok dalam setiap transaksi dagang itulah justru
banyak sekali kebohongan yang terjadi. Sebuah contoh saja: penjual yang
mengatakan bahwa dia menjual barang "tanpa untung" atau "bahkan rugi" hampir
bisa diyakini pasti bohong. mungkin pedagang bisa berkata, "maaf pak
harganya sekian saya beli, mungkin bapak mau kasih saya berapa, atau mungkin
tidak berkata apa-apa lebih baik dari pada harus berbohong.

Pernah membayangkan juka hidup di dunia ini tidak ada bohong Maka
dibayangkan pasti ketika tidak ada kebohongan maka akan tidak ada perusahaan
yang dirugikan oleh kecurangan pegawainya, negara tidak bangkrut karena ulah
para koruptor kelas kakap, tak ada keretakan rumah tangga karena senantiasa
terlindung oleh bingkai kejujuran, tidak ada pengkhianatan, tidak ada
kemunafikan, tidak ada bencana besar yang timbul akibat satu bentuk
ketidakjujuran yang terlalu sering dianggap sepele. Maka juga, bisa
dipastikan hari itu adalah hari yang sangat dirindukan oleh kita semua.
mungin tidak ya.. berharap itu semua bisa terjadi.... Dan saya akan
mengucapkan Terimaksih untuk tidak berbohong, kepada orang yang jujur.

Di Momentum yang tepat di bulan yang sakral bagi umat islam saya mengajak
seluruh Warga negara Indonesia untuk kembali merefleksikan diri dan
membiasakan diri untuk hidup Jujur, Saya akan mencoba mengkampanyekan untuk
hidup jujur, dari hal yang terkecil, dimulai saat ini, dimulai dari diri
kita sendiri, didalam apa pun yang anda kerjakan. Ijinkan saya mengucapkan
kepada Sahabat semua " Terimakasih untuk tidak berbohong... "

Lihat profil user

9 Re: Mari kita renungkan... on Fri Oct 31, 2008 9:39 pm

Raexon


Pejuang Kumpul
wah thanks nih update-annnya....panjang2 tapi berguna....gw aja baru baca artikel pertama....

Lihat profil user

10 Re: Mari kita renungkan... on Sat Nov 01, 2008 8:27 pm

ikut aja


SMA Kelas 1
SMA Kelas 1
wah...cape bgt deh bacanya...
tapi keren..boleh juga

Lihat profil user

11 Re: Mari kita renungkan... on Thu Nov 13, 2008 8:54 pm

zuwi50


SMP Kelas 2
SMP Kelas 2
kalau cape mendingan tidur... Very Happy

Lihat profil user

12 Re: Mari kita renungkan... on Sun Nov 16, 2008 6:50 am

Raexon


Pejuang Kumpul
walaupun panjang tapi tetep Nice Post Bos

Lihat profil user

13 Re: Mari kita renungkan... on Mon Nov 17, 2008 3:01 pm

zuwi50


SMP Kelas 2
SMP Kelas 2
Kenapa kita menutup mata ketika kita tidur? ketika kita menangis?
ketika kita membayangkan?
Ini karena hal terindah di dunia TIDAK TERLIHAT...

Ketika kita menemukan seseorang yang keunikannya SEJALAN dengan kita..
kita bergabung dengannya dan jatuh ke dalam suatu keanehan serupa yang
dinamakan CINTA...

Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan..
Orang2 yang tidak ingin kita tinggalkan...
Tapi ingatlah... melepaskan BUKAN akhir dari dunia..
melainkan awal suatu kehidupan baru..
Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis,
mereka yang tersakiti, mereka yang telah mencari...
dan mereka yang telah mencoba ..

Karena MEREKALAH yang bisa menghargai betapa pentingnya orang yang telah
menyentuh kehidupan mereka.. CINTA yang TULUS?
Adalah ketika kamu menitikkan air mata dan
MASIH peduli terhadapnya..
Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu
MASIH menunggunya dengan setia..
Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu
MASIH bisa tersenyum sembari berkata 'Aku turut berbahagia untukmu'.

Apabila cinta tidak berhasil... BEBASKAN dirimu...
Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas LAGI ..
Ingatlah...bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya..
tapi.. ketika cinta itu mati.. kamu TIDAK perlu mati bersamanya...

Orang terkuat BUKAN mereka yang selalu menang..
MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh.
Entah bagaimana... dalam perjalanan kehidupan,
kamu belajar tentang dirimu sendiri..
dan menyadari bahwa penyesalan tidak seharusnya ada.
HANYALAH penghargaan abadi atas pilihan2 kehidupan yang telah kau buat.

TEMAN SEJATI... mengerti ketika kamu berkata 'Aku lupa..'
Menunggu selamanya ketika kamu berkata 'Tunggu sebentar'
Tetap tinggal ketika kamu berkata 'Tinggalkan aku sendiri'
Membuka pintu meski kamu BELUM mengetuk dan berkata 'Bolehkah saya masuk?'

MENCINTAI...
BUKANlah bagaimana kamu melupakan..
melainkan bagaimana kamu MEMAAFKAN..
BUKANlah bagaimana kamu mendengarkan..
melainkan bagaimana kamu MENGERTI..
BUKANlah apa yang kamu lihat..
melainkan apa yang kamu RASAKAN..
BUKANlah bagaimana kamu melepaskan..
melainkan bagaimana kamu BERTAHAN..

Lebih berbahaya mencucurkan air mata dalam hati...
dibandingkan menangis tersedu-sedu..
Air mata yang keluar dapat dihapus.. sementara air
mata yang tersembunyi menggoreskan luka yang tidak akan pernah hilang..

Dalam urusan cinta, kita SANGAT JARANG menang..
Tapi ketika CINTA itu TULUS, meskipun kalah, kamu TETAP MENANG
hanya karena kamu berbahagia.. dapat mencintai seseorang..
LEBIH dari kamu mencintai dirimu sendiri..

Akan tiba saatnya dimana kamu harus berhenti mencintai seseorang
BUKAN karena orang itu berhenti mencintai kita
MELAINKAN karena kita menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia
apabila kita melepaskannya.

Apabila kamu benar2 mencintai seseorang, jangan lepaskan dia..
jangan percaya bahwa melepaskan SELALU berarti kamu benar-benar mencintai
MELAINKAN... BERJUANGLAH demi cintamu. Itulah CINTA SEJATI.
Lebih baik menunggu orang yang kamu inginkan DARIPADA
berjalan bersama orang 'yang tersedia'

Kadang kala, orang yang kamu cintai adalah orang yang PALING
menyakiti hatimu dan kadang kala, teman yang menangis bersamamu adalah
cinta yang tidak kamu sadari.

Lihat profil user

14 Re: Mari kita renungkan... on Mon Nov 17, 2008 3:03 pm

zuwi50


SMP Kelas 2
SMP Kelas 2
KATA-KATA KASAR

Saya menabrak seorang yang tidak dikenal ketika ia lewat.
\'Oh, maafkan saya\' adalah reaksi saya.
Ia berkata, \'Maafkan saya juga; Saya tidak melihat Anda.\'
Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan. Akhirnya kami
berpisah dan mengucapkan selamat tinggal.

Namun cerita lainnya terjadi di rumah, lihat bagaimana kita
memperlakukan orang-orang yang kita kasihi, tua dan muda.

Pada hari itu juga, saat saya tengah memasak makan malam, anak lelaki
saya berdiri diam-diam di samping saya.
Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh. \'Minggir,\' kata
saya dengan marah. Ia pergi, hati kecilnya hancur.
Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya. Ketika
saya berbaring di tempat tidur,
dengan halus Tuhan berbicara padaku,

\'Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, etika
kesopanan kamu gunakan,
tetapi anak-anak yang engkau kasihi, sepertinya engkau perlakukan dengan
sewenang-wenang.
Coba lihat ke lantai dapur, engkau akan menemukan beberapa kuntum bunga
dekat pintu.\' \'Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu;
merah muda, kuning dan biru.
Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak menggagalkan kejutan yang akan
ia buat bagimu,
dan kamu bahkan tidak melihat matanya yang basah saat itu.\' Seketika aku
merasa malu, dan sekarang air mataku mulai menetes.

Saya pelan-pelan pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat
tidurnya, \'Bangun, nak,
bangun,\' kataku. \'Apakah bunga-bunga ini engkau petik untukku?\'
Ia tersenyum, \' Aku menemukannya jatuh dari pohon. \'
\'Aku mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu.
Aku tahu Ibu akan menyukainya, terutama yang berwarna biru.\'
Aku berkata, \'Anakku, Ibu sangat menyesal karena telah kasar padamu;
Ibu seharusnya tidak membentakmu seperti tadi.\'
Si kecilku berkata, \'Oh, Ibu, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu. \'
Aku pun membalas, \'Anakku, aku mencintaimu juga, dan aku benar-benar
menyukai bunga-bunga ini,
apalagi yang biru.\'

Apakah anda menyadari bahwa jika kita mati besok, perusahaan di mana
kita bekerja sekarang bisa saja dengan mudahnya mencari pengganti kita
dalam hitungan hari?
Tetapi keluarga yang kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama
sisa hidup mereka.

Mari kita renungkan, kita melibatkan diri lebih dalam
kepada pekerjaan kita ketimbang keluarga kita sendiri,
suatu investasi yang tentunya kurang bijaksana, bukan?

Jadi apakah anda telah memahami apa tujuan cerita di atas?
Apakah anda tahu apa arti kata KELUARGA?

Dalam bahasa Inggris, KELUARGA = FAMILY.
FAMILY = (F)ather (A)nd (M)other, (I), (L)ove, (Y)ou.

Lihat profil user

15 Re: Mari kita renungkan... on Mon Nov 17, 2008 3:06 pm

zuwi50


SMP Kelas 2
SMP Kelas 2
Merasa
Diremehkan Atasan


Oleh
Johand Dimalouw





Pernahkah anda ‘merasa diremehkan
atasan’ anda? Kalau pernah silahkan membaca selanjutnya. Saat kita mulai
bekerja, kita sebenarnya memasuki sebuah ‘dunia baru’ dengan aturan-aturannya
(baik tertulis maupun tidak) sendiri. Kita sendiri membawah sekantong besar
aturan kita sendiri, yang kita kumpul dari kehidupan kita sebelumnya; mungkin
di kampung halaman, di rumah ortu, di sekolah, di kampus, di tempat kerja
sebelumnya dan lain-lain, serta aturan yang kita buat sendiri.


Salah satu akibatnya, tetapi tidak
selalu sebagai orang baru di tempat kerja, kita akan ‘merasa diremehkan oleh atasan’ kita. Hal ini akan terrasa terutama
oleh rekan-rekan yang baru selesai kuliah dan mulai bekerja.


Kebetulan saya sudah dan malah ‘sering’
mengalami hal ini, karena saya sempat bekerja dan berpindah-pindah tugas
sebanyak 16 kali dalam masa kerja 30 tahun, walaupun hanya di satu perusahaan
yang sama. Jadi rata-rata saya gonta-ganti bawahan dan juga atasan kurang dari
2 tahun sekali. Tentu saya juga pernah ‘merasa diremehkan’ oleh berbagai
sifat-sifat para atasan saya, baik orang kita maupun orang asing terutama saat
saya mulai bekerja di tempat tugas yang baru. Selain saya yang berganti tugas
dan mendapat atasan baru, sering juga atasan yang diganti jadi walaupun
tugasnya tidak berganti, atasannya yang berganti.


Saya pernah mengalami hal ini beberapa
kali, yaitu ‘saya merasa diremehkan’ baik dari atasan orang kita dan juga orang
asing dalam berbagai jenjang pekerjaan saya. Setelah saya analisa dgn pikiran
yang jernih dan emosi dilempar jauh-jauh tentunya, saya temukan bahwa pada
dasarnya ini disebabkan umumnya oleh pemikiran alias persepsi kita semata. Tidak ada alasan yang masuk akal bahwa
penyebabnya adalah diri kita yang memang patut diremehkan dan juga tidak ada
faktor hubungan pribadi kita dengan atasan kita yang negatif. Berikut adalah
beberapa pengalaman pribadi saya.


Suatu saat saya ditugaskan oleh Atasan
saya (orang Indonesia) membantu rekan kerja saya (juga orang Indonesia, yang
lebih senior dari saya) yang menghadapi banyak kendala operasi di unitnya.
Saya menemui rekan saya tersebut dan menyampaikan bahwa saya ditugaskan
untuk membantu dia memperbaiki mesin unit sekian yang sedang rusak. Dia
menyambut saya dengan baik dan saya mulai bekerja. Saya merasa sungguh-sungguh
diremehkan olehnya karena apapun yang akan saya kerjakan dipertanyakannya. Saya
mengharapkan dia akan membantu saya agar saya bisa membantu dia dengan sepenuh
kemampuan saya. Ternyata tidak demikian. Dia justru mempersulit saya karena
semua perkakas dan buku manual mesin disimpannya dalam lemari yang dia kunci. Sementara
itu dia duduk di kantor ber-AC dan malahan tidur.. Sungguh membuat saya kesal
dan saya ajak dia untuk ngobrol tentang apa yang dikerjakan dan apa yang
diperlukan dan apa bantuan yang saya harapkan dari dia. Nyatanya tidak
menolong. Akhirnya saya laporkan ke atasan saya bahwa saya ingin ditugaskan
untuk membantu orang lain tetapi tidak yang satu ini.


Atasan saya yang lain, lain lagi
tingkahnya. Atasan 'Orang kita' yang satu ini nampaknya mempunyai 'anak emas' yang
sudah terlebih dahulu jadi anak buahnya dan telah mendapat kepercayaan si Boss.
Saya pikir wajar saja. Saya harus berusaha untuk mendapatkan kepercayaan dari
atasan saya ini. Jadi saya harus berusahan untuk mendapatkan kepercayaan dari
si Boss itu. Ternyata memang sangat sulit untuk mendapatkan kepercayaan dari
atasan itu.


Orang
Asing ternyata lain lagi alasannya ketika saya ‘merasa diremehkan’ oleh dia. Setelah
saya selidiki (termasuk ngobrol langsung dengan dia), ternyata Boss Asing ini
sebenarnya tidak paham masalah yg kita hadapi karena dia tidak punya keahlian
di bidang ini. Pemikiran bahwa saya 'diremehkan itu' sebenarnya tidak benar
sama sekali. Justru sebaliknya yang saya temukan. Karena dia sudah sangat yakin
akan kemampuan saya dan tahu apa yg saya sarankan adalah benar, maka dia
sebenarnya ingin belajar lebih dalam dari saya. Jadi 'pertanyaan- pertanyaan si
boss' yang tadinya saya kira untuk ‘meremehkan saya’ bukan demikian, tetapi
justru ingin menggali lebih dalam dan lebih jelas dari saya alias dia adalah ‘murid’
saya yang masih bodoh dan ingin belajar dari saya. Memang sangat sulit
membedakan pertanyaan dari boss kita yang juga murid kita. Setelah saya pahami
bahwa atasan saya ini bertanya karena ingin tahu, maka perasaan saya bahwa saya
diremehkan itu hilang dengan sendirinya dan semua pertanyaannya saya layani
dengan senang hati.





Suatu
saat saya menjadi bawahan dari seorang asing yang terkenal ‘sangat teliti’ dan ‘sangat
cerewet’ kasarnya. Secara mental saya siap untuk menghadapi boss ini. Semua
laporan kepadanya ternyata dia baca dan koreksi, tata bahasa, titik, koma,
angka2 dengan sangat tekun. Hal ini ternyata sesuai dengan pembicaraan saya
dengan dia pada saat awal saya jadi bawahannya.
Saya berusaha untuk ‘memenuhi sandard kerja’ yang dia inginkan, selama
kurang lebih 2 bulan pertama.


Setelah
itu saya dengan sengaja ‘menyelipkan beberapa ‘kesalahan kecil’ (grammer
misalnya) dalam laporan saya dan ternyata ‘sudah tidak tertangkap’ olehnya.
Saya lakukan beberapa kali dan ternyata sudah tidak tertangkap olehnya lagi.
Bagi saya ini pertanda ‘saya telah lulus’ menjadi anak buahnya sehingga
pekerjaan saya tidak diperiksa seperti semula. Saya senang menjadi bawahannya
karena dia punya standar kepuasan yang tinggi dan saya bertekad untuk menjaga
kepercayaannya.





Adalah
lagi atasan yang suka menanyakan hal-hal yang kecil-kecil dan sepele saja. Dia
memberi nasehat kepada saya, bahwa kita sebagai atasan tidak akan mampu
menguasai segala hal yang dikuasai oleh anak buah kita. Kalau kita berkunjung
kepada bawahan kita, sempatkan periksa tempat sampah di bengkel atau kantornya.
Bila tempat sampahnya tertutup rapih dan sampah tidak berada di luar tong
sampah, maka kita bisa pastikan bahwa semua pekerjaan bawahan kita itu beres
adanya.





Kesimpulan
saya adalah bahwa setiap atasan atau boss itu manusia yang punya kelebihan dan
kekurangan seperti diri kita. Sikapnya kepada kita, harus kita ukur dengan alat
ukur dan sistim nilai tang dia anut, agar kita tidak merasa diremehkan.


Ingat-ingat
kata orang bijak kita,


“lain
lalang lain belalang, lain lubuk lain lain pula ikannya.”






Semoga
bermanfaat.





Bandung,
21Juni 2008


Johand
Dimalouw

Lihat profil user

16 Re: Mari kita renungkan... on Mon Nov 17, 2008 3:44 pm

Raexon


Pejuang Kumpul
Nice Post Bos keren2.....

eh2 ceritain dong yang keluarga miskin, penyakitan, dll...

Lihat profil user

17 Re: Mari kita renungkan... on Mon Nov 17, 2008 4:18 pm

zuwi50


SMP Kelas 2
SMP Kelas 2
mengenaskan amat nasib keluarganya :p

Lihat profil user

18 Re: Mari kita renungkan... on Mon Nov 17, 2008 5:40 pm

Raexon


Pejuang Kumpul
ih serius...ceritain dong disini...lo cerita cuman setengah doang...terus berenti tiba2! Marah

Lihat profil user

19 Re: Mari kita renungkan... on Tue Nov 18, 2008 2:33 pm

zuwi50


SMP Kelas 2
SMP Kelas 2
Raexon wrote:ih serius...ceritain dong disini...lo cerita cuman setengah doang...terus berenti tiba2! Marah

um... bukunya lagi dipinjem bos....

Lihat profil user

20 Re: Mari kita renungkan... on Tue Nov 18, 2008 5:00 pm

Raexon


Pejuang Kumpul
yah sayang...padahal penasaran tuh gw pengen tau ceritanya Very Happy

Lihat profil user

21 Re: Mari kita renungkan... on Tue Nov 18, 2008 9:32 pm

ikut aja


SMA Kelas 1
SMA Kelas 1
gw juga penasaran bgt nih...

Lihat profil user

22 Re: Mari kita renungkan... on Thu Nov 20, 2008 8:38 pm

zuwi50


SMP Kelas 2
SMP Kelas 2
yah kita doakan saja supaya selamat....

Lihat profil user

23 Re: Mari kita renungkan... on Thu Nov 20, 2008 8:41 pm

zuwi50


SMP Kelas 2
SMP Kelas 2
Ijinkan Aku Menciummu Ibu,nais story



Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu
olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu
lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku 'dipaksa'
membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun.
Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua
pekerjaan rumah dibereskan.

Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring
bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua
beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu
bersungut-sungut.

Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua.
Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku
yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu.
Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku
dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.

Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang
mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu.
Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana.
Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk
yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya
menunggu.Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel berbunyi.

Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain
bersama teman-teman, bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit,
ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. Saat aku
Menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga.

Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan
bersamanya. Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan
penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya
berjalan satu-dua meter didepannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya.

Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah
memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi
perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus
agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa
uang belanja bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh
kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajariku berjalan. Ia mengangkat
tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku
erat-erat saat aku menangis.

Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan
tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan
berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan
hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang berlangsung
antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala
tuntutan keperluan kampus lainnya.

Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak
berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang
mampu meraih gelar sarjananya. Meski Ibu bukan orang berpendidikan, tapi
do'a di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang
sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang.

Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia
tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu.
Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari
keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku
bersimpuh di kakinya. Saat itulah aku menyadari, ia juga yang pertama kali
memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini.

Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah
lagi menjenguknya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang
shaleh dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku
pada Ibu. Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa
segala kiriman uangku setiap bulannya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu.
Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.

Lihat profil user

24 Re: Mari kita renungkan... on Fri Nov 21, 2008 4:50 am

Raexon


Pejuang Kumpul
sedih...sedih...sedih Sad

Lihat profil user

25 Re: Mari kita renungkan... on Fri Nov 21, 2008 5:14 am

RV77


Bisa Ngomong
Bisa Ngomong
Wah...isinya bagus2 neehh....boleh ikutan yah....salam kenal semuanya... flower

Lihat profil user

26 Re: Mari kita renungkan... Today at 11:07 am

Sponsored content


Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas  Message [Halaman 1 dari 2]

Pilih halaman : 1, 2  Next

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik